My Way to Tumbang Lahang


Perjalanan saya yang kali ini adalah ke kampung di Tumbang Lahang Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah. Perjalanan menuju desa Tumbang Lahang kira-kira menempuh waktu 3-4 jam dari Ibukota Kalimantan Tengah, Palangkaraya. Kondisi jalan yang masih belum stabil, masih dalam tahap pengurugan, sehingga masih harus ekstra berhati-hati. Tanah merah yang becek terkadang membuat ban mobil selip, sehingga jantung sempat deg-degan juga, karena disamping kanan kiri adalah sungai. Untung supirnya “ Supir tahi…! (orang sini bilang untuk menyebut seseorang orang yang sudah makan banyak pengalaman dan mahir)”. Letak desa ini berada di samping Sungai Katingan. Salah satu sungai terbesar di Kalimantan Tengah dengan panjang sekitar 300 Km.

Ke arifan, kesederhanaan tercermin dari setiap sudut arsitektur tradisional bentuk rumah di setiap desa yang kami lalui. Rata-rata bentuk rumah masih menggunakan kayu dengan lantai yang sengaja dibuat tinggi, masih jarang terlihat rumah dengan menggunakan tembok beton, jadi ingat Kutoarjo (jadi pengin pulang deh). Asri dan masih rimbun, burung-burung dengan berbagai macam corak yang bernyanyi bebas memainkan suasana untuk melepas penat.

Saya memang belum fasih benar dengan bahasa asli Kalimantan Tengah,                  namun   dengan  membaca mimik muka mereka.                                                                                        Saya berusaha untuk memahami apa yang sedang dibicarakan.

Logat bahasa yang jauh dengan bahasa ibuku cukup menarik untuk didengarkan.

Sandung, sapundu, dan pantar tak luput dari lensaku. Ketiganya inilah salah satu penghormatan bagi mereka yang sudah meninggal oleh kita yang masih hidup. Sandung adalah rumah tempat meletakkan/ menyimpan tulang belulang, yang merupakan tempat tulang-tulang nenek moyang mereka. Sapundu adalah patung-patung kayu yang diukir yang menyerupai bentuk manusia, yang menggambarkan orang yang meninggal. Sedangkan pantar adalah kayu yang menjulang tinggi yang melambangkan tingkat kebesaran mereka. Semakin tinggi maka semaking tinggi kedudukan mereka dahulu. Namun pencurian terhadap sapundu-sapundu sedang marak terjadi. Ini sangat mengkhawatirkan.

Perhatianku terpecah oleh suara mesin yang memecah keheningan desa/ kampung ini. Ternyata suara mesin perahu kelotok yang membawa karet-karet mentah menyusuri Sungai Katingan. Yach memang melalui sungailah karet-karet tersebut dibawa. Dan dari karet tersebutlah banyak penduduk di kampung ini berusaha. Seandainya jalan untuk transportasi sudah lancar, dan penduduk disini mempunyai mobil/ kendaraan sendiri untuk membawa ke perusahaan-perusahaan, pastinya penghasilan penduduk disini tidak kalah dengan yang ada diperkotaan.

Seandainya masih ada kesempatan Saya masih ingin berlama-lama disini. Udara yang sejuk yang sangat susah Saya dapatkan di perkotaan membuatku betah disini. Rasanya masih banyak yang terlewatkan dari lensaku.

2 thoughts on “My Way to Tumbang Lahang

  1. ratna says:

    wahhh… kapan nih main ke tumbang lahang?? sekarang jalan ke sana sudah mulai lancar lho walapun belum ada aspal, tapi penduduk sekitar sudah banyak punya kendaraan pribadi… kebetulan ibu saya orang tumbang lahang tapi sekarang kami sekeluarga menetap di palangka raya… lain kali kita bisa sharring ya….

    salam kenal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s