Angkringan


Angkringan

Lelaki dengan mimic muka yang sudah tidak lagi bisa dibedakan sedang serius atau tidak, dengan keriput muka yang telah menjadi ornament di wajah yang telah muncul setidaknya sepuluh sampai dua belas tahun yang lalu, sebagai salah satu imbas menyikapi kebutuhan hidup yang dirasakan sudah mencekak leher. Tangan yang sudah tida lagi kekar seperti waktu masih muda dulu yang masih cakap menggenggam cangkul yang kini lahan tempat dulu dia berkarya telah bergantikan dengan rumah-rumah dengan dinding yang mencerminkan kesombongannya, dan kini masih sibuk melayani para pembelinya. Segelas es teh dan wedhang jahe panas pesanan langganannya. Walau bangku pendidikan tidak sempat habis dikenamnya, namun dia sanggup bercerita dari A-Z, dari masalah silsilah sejarah, masalah krusial politik, masalah gossip actress, dan yang paling aku suka adalah kisah hidupnya dalam menyikapi hidup dan segenap nasihat dan petuahnyanya (serasa menyiram tenggorokan yang sudah kering kerontang akibat seharian dijemur ditelan habis dengan segelas es teh….srrrrrrrr).

Remang-remang lampu minyak / teplok yang menerangi angkringan, yang merupakan salah satu ciri khasnya. Justru ini yang menambah cita rasa, suasana tersendiri yang membuat orang berjam-jam kerasan untuk nongkrong di angkringan ini.

Tak tahu secara pasti kapan pertama kali angkringan-angkringan ini datang ke kota ini. Ada yang bilang kedatangannya sekitar tahun 1980an. Diantara pedagang angkringan tersebut sebagian besar adalah orang dari Klaten. Hal yang perlu dicatat ternyata Yogya bukanlah asal dari angkringan meskipun saat ini di tiap sudut kota dan gang-gang bertebaran ribuan pedagang angkringan. Di Yogya ada banyak warung angkringan yang cukup melegenda. Angkringan yang terletak di jalan Gejayan, dengan antrean panjangnya, angkringan di Utara stasiun tugu dengan menu kopi josnya (kopi yang dimasuki dengan arang yang membara), dan masih banyak lagi dengan ciri khas masing-masing.

Sego kucing (nasi kucing), segelas kopi nasgitel (panas, legi, kental/panas, manis, kental), gorengan, sebatang hingga beberapa batang rokok tak pernah absen menemani para pelanggan disini. Semua itu seperti piranti-piranti penting dalam memualai sebuah diskusi yang tanpa ada tekanan, bebas dan satu hal yang perlu dicatat topik pembicaraannya selalu up to date. REPUBLIK BBM kadang aku menyebut komunitas di angkringan ini seperti salah satu program televisi di salah satu TV swasta. Wajah-wajah ceria ngobrol dengan lepas tanpa tekanan dan penuh dengan suasana kekeluargaan. Malam semakin larut. Pembicaraan serasa tak pernah kehabisan topik. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya rakyat tak sebodoh dan ilmu pengetahuannya tak sedangkal seperti yang tertera di atas kertas, mereka hanya diam dan NERIMO.

One thought on “Angkringan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s