Gubug Tua….


Art1 (138)

Tempat kami memang tak lagi semegah dahulu, dimana peluh dan keringat setia menempel pada ujung bibir kelesuan, keputusasaan, keletihan, kegembiraan.

Kini hanyalah sebuah ruang kosong nan angkuh dengan jam buntut yang masih menempel dengan besi-besi yang telah lelah berkarat..

Hanya beberapa jengkal menunggu waktu kerapuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s