“Ooooohhhh NOOOOO…” (2)


Art1 (116)Bumi Kini Berada Pada Puncak Periode Panas. Berbincang mengenai hutan manakala ditinjau dari sudut kata ‘Global Warning’ akan memberikan sebuah konsensi yang merugikan kepentingan nasional bangsa Indonesia. Sebab kesepakatan politik global yang sengaja dibentuk oleh negara-negara maju mendudukan penurunan traffic hutan tropis sebagai salah satu penyebab terbesar terhadap effect ‘Global Warning’. Meskipun skema carbon trade protocol Kyoto memberikan konvensasi sekian USD untuk setiap hektar hutan, tetap saja kepentingan nasional kita kalah dalam percaturan kepentingan global.

Negara industri maju selalu mengungkapkan bahwa kebijakan ‘Global Warning’ adalah demi kepentingan kemanusiaan. Sebuah ketidakadilan argumen yang disampaikan oleh Negara industri yang telah maju dan berteknologi tinggi. Dimana INDUSTRI mereka menghamburkan emisi hingga ambang batas kritis. Dan melalui kesepakatan ‘Global Warning’ kita diminta untuk melestarikan hutan. Sedangkan realitas kehidupan kita masih tergolong sangat dekat dengan alam. Sementara kita dimintai untuk melestarikan hutan tropis, Sedangkan negara-negara maju masih terus dan tetap menghasilkan emisi karbon dan gas buangan beracun lainnya yang melampaui ambang batas kritis yang seharusnya ditutup sesuai konvensi. Sejatinya harus ada keseimbangan, bahwa negara industri maju harus menghutankan kembali wilayahnya setara dengan tingkat emisi yang mereka buang keudara.

Dr. Oleg Sorokhtin, salah seorang saintis Russia, anggota Russian Academy of Natural Sciences dan peneliti pada Oceanology Institute menyatakan bahwa pemanasan global adalah trend alami yang biasa-biasa saja. Tapi, trend ini telah dimulai sejak abad 17 lampau, saat tidak ada pengaruh industri terhadak cuaca dan tidak ada fenomena yang disebut dengan efek rumah kaca. Pemanasan ini sepenuhnya proses alami yang bebas dari efek rumah kaca.” (Sumber : http://musakazhim.wordpress.com)

Sekarang apakah kita sebagai salah satu generasi muda tidak mampu memberikan solusi atau jalan tengah terbaik, ini adalah sebuah tantangan bagi generasi muda untuk berkarya/ kreatif menciptakan inovatif- inovatif baru untuk mengurangi dampak adanya Global Warning.

Penggunaan energy alternative. Energi hijau. Pemerintah Indonesia telah memberikan perhatian serius untuk pengembangan bahan bakar nabati (biofuel). Hal ini telah menerbitkan Intruksi Presiden No. 1 Tahun 2006 tertanggal 25 Januari 2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (biofuel) sebagai bahan bakar lain. Dimana bahan bakar dari minyak nabati yang memiliki sifat ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas buang yang jauh lebih baik dibandingkan dengan diesel/solar, yaitu bebas sulfur (free sulfur), bilangan asap (smoke number) yang rendah, memiliki cetane number yang lebih tinggi sehingga pembakaran lebih sempurna (clear burning), memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin, dan dapat terurai (biodegradable) sehingga tidak menghasilkan racun (non toxic). Alternatif lain adalah penggunaan dan pemanfaatan barang-barang bekas.

Sebagai penutup saya mengajak kawan-kawan untuk merenung ; “ Bahwa tidak semua yang buruk pasti buruk “. Tinggal bagaimana kita menyikapi dengan pikiran, kemauan, kehendak, doa, dan iman yang kuat.

Akhir kata ‘ Love Make Peace ‘ .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s