“Jika Aku Menjadi”


TransTV : Jika Aku Menjadi

Transtv menghadirkan tayangan yang tak hanya menghibur, tapi juga memberikan pembelajaran bagi hidup kita. Adalah acara Jika Aku Menjadi yang memberikan nuansa baru terhadap pemirsa acara televisi, yang jenuh dengan kehadiran sinetron, boleh jadi ini adalah alternatif lain. Salah satu acara terbaik yang ada, dan pernah saya lihat. Setiap habis melihat acara ini saya selalu merasa, bahwa inilah reality sebenarnya, ketika mahasiswa lulus dari tingkat pendidikan. Bukan dengan corong-corong dan spanduk-spanduk yang mengungkapkan kebesaran mahasiswa dengan yel-yel yang menurut mereka mewakilkan masyarakat namun menjadi bahan cemoohan masyarakat yang menontonnya. J-A-M adalah program majalah berita, yang menyuguhkan informasi langsung seputar kehidupan kalangan kelas bawah (pemulung, nelayan, penjaga mercusuar, guru sederhana yang bertugas di tempat terpencil, kenek bus, sopi bus antarkota, penjaga lintasan kereta api, petani, pedagang asongan, tukang jual obat pinggir jalan, dsb…).

DSC_0022a

Informasi dalam J-A-M ditujukan untuk memberi pemahaman, empati atau simpati pada masyarakat bawah. Tidak dengan cara karitas atau membagi-bagi uang/barang/renovasi rumah (seperti program di stasiun-stasiun TV lain), tetapi dengan menampilkan keseharian mereka di rumah, di lingkungan sekitar, di tempat kerja, dan sebagainya.
Misalnya, bagaimana si reporter/talent (dengan tampilan urban), yang biasa menggunakan toilet duduk a’la budaya Barat, harus belajar buang air besar di WC kali Ciliwung atau di sawah. Atau, bagaimana si reporter/talent yang biasa makan di KFC atau Hoka-Hoka Bento, harus makan cuma dengan nasi+ikan asin murahan, bahkan nasi aking (nasi basi yang dijemur dan lalu dimasak kembali) bersama tuan rumah, karena ia menginap di rumah petani miskin

Sebenarnya acara ini sudah tayang sejak tahun yang lalu tepatnya sejak 25 november 2007. Acara ini ditayangkan setiap hari sabtu dan minggu mulai pukul 06:00 sampai 07:00. malam. Banyak hal yang bisa kita petik dari tayangan ini. Transtv menghadirkan acara ini dengan narasi seperti bercerita. Berbeda dengan acara sejenis dimana narasi dibacakan seakan sengaja dibikin “menderita”. Sungguh, banyak pembelajaran hidup yang bisa kita petik dari acara ini. Hidup perlu diperjuangkan dan yang penting bagaimana kita menghargai sesama yang tak beruntung.

logojam“Adalah seorang wanita (saya lupa namanya, kita sebut aja wulan, seorang mahasiswa di jakarta) yang menjadi anak dari seorang tukang pencari belut (sorry nama nya juag lupa, kita sebut aja Pak hadi) yang bertempat tinggal di muara gembong bekasi. Keluarga tersebut memiliki 3 orang anak yang masih kecil antara 6- 8 tahun dan saat itu istrinya sedang hamil tua. Pekerjaan sehari-hari dia hanya mencari belut sawah, terus di jual kepasar atau langganan nya. Nah uang hasil menjual belut ini di belikan kebutuhan sehari-hari. Kebetulan hari itu pak hadi kurang beruntung karena hanya mendapat sedikit belut sehingga uang yang didapat hanya Rp. 4000. Kebayang nggak sih kerja dari pagi sampai sore cuma dapet Rp.4000. Beli apa coba dengan uang 4000, akhirnya pak hadi hanya mampu beli singkong. Padahal dirumah istri dan anak-anaknya berharap lebih. Sampai dirumah istrinya langsung merebus singkong tersebut dan mereka langsung makan bersama hanya dengan singkong dengan lahapnya tanpa tersisa sedikitpun. Bagi mereka makan seperti ini adalah hal yang paling dinantikan walaupun hanya dengan singkong sekalipun, kebayang nggak sih SINGKONG. Wulan (mahasiswa yang menjadi anak mereka) nangis ngga henti-hentinya melihat semua itu sampai-sampai kru lain nya harus menenangkan dia. Wajar Wulan nangis, karena dia menemani pak hadi bekerja dari pagi sampai siang ditengah terik matahari, kotor karena cari belutnya di sawah tapi hanya segitu yang dia dapatkan. Wajar dia menangis karena dijaman yang katanya sudah maju ini masih banyak yang makan dengan singkong. Wajar pemirsa yang lainnya pun nangis karena anak-anak mereka masih kecil dan butuh makanan yang berenergi dan berenergi.”

si nenekSalah satu acara terbaik yang ada, dan pernah saya lihat. Setiap habis melihat acara ini saya selalu merasa, bahwa inilah reality sebenarnya, ketika mahasiswa lulus dari tingkat pendidikan. Pada acara ini mahasiswa dituntut untuk melakukan hal yang hampir tak pernah dilakukan. Dan biasanya pekerjaan yang dilakukan realatif kasar, dan terkadang mereka yang dulunya merasa jijik dituntut untuk harus melakukan. Dari memecah batu, memanggul batu, batang pohon, mencari kodok, memotong ayam, memanggul barang dagangan, berjualan di depan khalayak umum, dan lain sebagainya. Yang mungkin bayangan mereka setelah habis menyelesaikan bangku perkuliahan mereka akan duduk manis di belakang meja, ternyata mungkin mereka belum tentu akan seperti harapan. Bayangkan terkadang dari sejumlah kerja keras yang dilakukan hanya mendapat upah yang tidak seberapa dibandingkan dengan biaya kos mereka, atau bulanan mereka. Mungkin mereka sendiri yang menjadi seperti mereka. Mahasiswa dituntut jadi tegar, dan kreatif. Pada acara ini yang menarik adalah biasanya mahasiwa yang mengikuti acara ini merasa bahwa kehidupannya selalu merasa berkekurangan, namun setelah mereka mengikuti acara ini mereka merasa bahwa mereka sebenarnya lebih-lebih baik.

Seharusnya acara ini mendapat sokongan dari pihak Pemerintah khususnya Departemen Pendidikan dan Instansi Pendidikan lainnya. Bagaimana menjadikan program seperti ini untuk menggantikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang pernah ada, karena menurut saya KKN kurang memberikan sumbangan dan masukan yang berarti bagi mahasiswa. Mahasiwa malah menjadi cengeng, karena mereka ada pihak-pihak yang melindungi mereka. Program ini serasa membukaan mata para mahasiswa, bahwa bagaimana sebenarnya apa yang mereka lihat, apa yang mereka pelajari, apa yang mereka punya belum tentu sesuai dengan apa yang mereka harapkan dan belum tentu mereka sukses di kehidupan liar, ganas di lapangan. Saya yakin apabila acara seperti ini menjadi sebuah kurikulum pendidikan, niscaya lapangan-lapangan pekerjaan baru yang terlahir berkat kreatifitas para generasi muda dalam menghadapi situasi yang sulit akan bertambah banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s