Beruang madu


Seekor beruang madu berusia 1,5 tahun berdasarkan informasi yang diperoleh dari salah satu surat kabar harian terkemuka di Kalimantan Tengah telah diterima oleh BKSDA Kalteng SKW II Pangkalan Bun, beruang ini diserahkan secara sukarela oleh masyarakat yang menemukannya di hutan beberapa waktu lalu. Saat ditemukan binatang ini terlihat sendiri di dalam kayu yang berlobang dalam keadaan gemetar. Beruang madu (Helarctos malayanus) merupakan jenis paling kecil dari kedelapan jenis beruang yang ada di dunia. Berat badannya berkisar antara 30 sampai dengan 65 kilogram, namun data dari alam sangat terbatas. Beruang madu yang ada di Pulau Borneo merupakan yang paling kecil dan kemungkinan dapat digolongkan sebagai sub-jenis (sub-species) dengan nama H.malayanus eurispylus. Sifat-sifat fisik beruang madu adalah sebagai berikut:

  • Bulunya pendek, mengilau dan pada umumnya hitam (namun terdapat pula yang berwarna coklat kemerahan maupun abu-abu);
  • Mata berwarna coklat atau biru;
  • Hampir setiap beruang madu mempunyai tanda di dada yang unik (warnanyabiasanya kuning, oranye atau putih, dan kadang-kadang bertitik-titik);
  • Hidung dari beruang madu relatif lebar tetapi tidak terlalu moncong;
  • Kepalanya relatif besar sehingga dapat merupai anjing; kupingnya kecilbundar,dan dahinya yang penuh daging terkadang tampak berkerut;
  • Mempunyai lidah yang sangat panjang (paling panjang dari semua jenisberuang yang ada).• lengan yang melengkung ke dalam, telapak yang tidak berbulu, dan kukuyang panjang, (maka beruang madu sangat terdaptasi buat memanjat pohon)
  • Tangannya relatif besar dibandingkan dengan ukuran badan (kemungkinanbesar hal ini memudahkan beruang madu utnuk menggali tanah danmembongkar kayu mati untuk mencari serangga)Beruang Madu mempunyai penciuman yang sangat tajam sehingga dapat ciumbekas injakan satwa lain maupun manusia. Pengelihatan diduga biasa saja sedangkan pendengarannya cukup peka.

Hutan hujan tropis merupakan habitat utama beruang madu. Beruang madu merupakan “omnivore” berartikan memakan banyak jenis makanan. Makanan utamanya adalah serangga (terutama rayap, semut, larva kumbang dankecoak hutan). Yang kedua adalah banyak jenis buah-buahan, apabila tersedia. Kalau beruang bisa dapat mereka sangat suka dengan madu, terutama dari jenis kelulut (stingless bees). Terkadang memakan bunga tertentu. Rumput dan daun hampir tidak pernah dimakan. Di pinggiran hutan beruang terkadang memakan umbut jenis-jenis palem, dan kemungkinan terkadang memakan jenis mamalia kecil dan burung. Kukunya yang panjang, tajam dan melengkung memudahkan beruang madu untuk menggali tanah, membongkar kayu jabuk, dan rahangnya yang sangatkuat membuat beruang sanggup membongkar kulit kayu guna mencari seranggadan madu. Dengan lidah panjangnya mereka mengambil makanan yang lobang lobang yang dalam. Dalam satu hari seekor beruang madu berjalan rata-rata 8 kmuntuk mencari makanannya. Apabila beruang madu memakan buah, biji ditelan utuh, sehingga tidak rusak. Setelah buang air besar, biji yang ada di dalam kotoran mulai tumbuh sehingga beruang madu mempunyai peran yang sangat penting sebagai penyebar tumbuhan buah berbiji besar seperti cempedak, durian, lahung, kerantungan dan banyak jenis lain. Perilaku mencari makan yang lain seperti pembongkaran sarang rayap di tanah,kayu jabuk dan batang pohon hidup untuk mendapatkan madu, bermanfaat bagi jenis satwa yang lain pula. Banyak burung yang ikut memakan serangga apabila beruang sudah membongkar sarang atau kayu jabuk dan pembongkaran kayumenyediakan lobang di batang pohon yang sering dimanfaatkan satwa lain untuk berlindung ataupun berkembang-biak. Perilaku menggali dan membongkar juga bermanfaat untuk mempercepat proses penguraian dan daur ulang yang sangat penting untuk hutan hujan tropis.

Penilitian jangka panjang pertama di dunia terhadap beruang madu di alam yang dilakukan di Hutan Lindung Sungai Wain,Balikpapan, Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa rata-rata seekor beruang betina memerlukan wilayah jelajah tidak kurang dari 500 Ha untuk hidup dalam setahun.Sedangkan diperkirakan bahwa beruang madu jantan memerlukan wilayah jelajahsekitar 1,500 Ha per tahun.

Pengetahuan mengenai perkembang-biakan beruang madu dan pengasuhan anak di alam sangat terbatas. Biasanya hanya satu anak yang mendampingi betina. Beruang madu betina hanya memiliki 4 puting susu dibandingkan jenis beruang lain yang biasanya melahirkan beberapa anak dan mempunyai enam puting susu. Beruang madu melahirkan di dalam batang kayu yang bolong atau gua kecil dimana anak beruang dilindungi sehinggacukup besar untuk mengikuti induknya dalam aktivitas sehari-hari. Informasi dariKebun Binatang menunjukkan bahwa perkembang-biakan beruang madu yang dipelihara sangat sulit dan saat ini justru dihindari karena populasi di alam sudah terancam kehilangan habitat sehingga usaha konservasi yang lebih diperlukan adalah pelestarian habitat ketimbang penambahan populasi yang dipelihara.

Di hutan alam Kalimantan dan Sumatra beruang madu yang dewasa dan sehat hampir tidak dimangsa satwa lain, Persatuan KonservasiDunia (IUCN) baru (April 2004) mengubah klasifikasi status konservasi beruangmadu dari “tidak diketahui karena kurang data” (Data deficient) ke “terancam”(Vulnerable). Klasifikasi tersebut berartikan beruang madu terancam punah terutamakarena habitatnya berkurang terus-menerus. Di Indonesia beruang madu dilindungi

UU sejak 1973 (SK Mentan) diperkuat dengan Peraturan Pemerintah no.8 tahun1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Faktor yang mengakibatkan berkurangnya populasi beruang madu termasuk:

  • Pengrusakan dan fragmentasi hutan alam akibat ulah manusia;
  • Kebakaran hutan yang merusak habitatnya;
  • Perburuan beruang madu untuk penggunaan bagianbadannya untuk obat tradisional,
  • Penangkapan untuk dijadikan satwa peliharaan;dan pembunuhan beruang akibat peningkatan konflik antara beruang dengan manusia di pinggir hutan.

Hanya dalam beberapa tahun terakhir ini mulai dilakukan penelitian mengenai biologi, ekologi dan perilaku di alam. Pelestarian beruang madu harus difokuskan pada pelestarian serta pengelolaan habitatnya, penegakan status hukum beruang madu (dilindungi di Indonesia – lihat di atas), pengurangan konflik antar manusia dan beruang di sekitar kawasan hutan, serta penghentian perdagangan beruang dan bagian tubuhnya.

Rencananya beruang madu yang diketemukan ini akan dirawat terlebih dahulu oleh BKSDA kemudia dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Lamandau. Hingga saat ini SKW II Pangkalan Bun telah menerima dan melepasliarkan beruang madu sebanyak dua ekor, dari total 11 ekor hewan dari masyarakat. Owa-owa 3 ekor, macan dahan 1 ekor, dan orang utan 4 ekor.

Sumber: http://www.beruangmadu.org/uploads/pdfs/sun_bear_facts_indo.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s