Yang Terlupakan


Di saat media massa sibuk membincangkan masalah “Gayus ….”, dimana tak tahu sampai kapan ujung pangkalnya akan terungkap atau malah pada akhirnya akan hilang sia-sia, MENGUAP, seperti asap rokokku ini; di sini di Stasiun Kereta Api Purworejo salah satu pejuang kesenian tradisional berjuang sendiri, memperjuangkan bagaimana dapurnya harus terus mengepul.

Sepasang suami istri dan ditemani dengan seorang anak yang dengan setia terus memperhatikan tiap orang yang lalu lalang di pinggir pintu masuk stasiun berharap iba atas jerih payah mereka. ” Kami ada disini, datang disini, dan berseru disini, lihatlah kami, dan dengarlah kami”.

Pak Warno dan Bu Warno berusaha tetap setia dengan apa yang dimiliki bangsanya. Bangsa Kita. Suara Bu Warno melantunkan lagu “Langgam Jawa” mengisi hampir di tiap sudut Stasiun Kereta Api ini, suara tinggi namun sangat enak didengar membuat mataku menjadi berat, ditambah dengan petikan suara dawai siter Pak Warno, yang memberikan titian di tiap not yang di nyanyikan oleh Bu Warno.

Langgam Jawa merupakan bentuk adaptasi musik keroncong ke dalam idiom musik tradisional Jawa, khususnya gamelan. Genre ini masih dapat digolongkan sebagai keroncong. Tokoh-tokoh musik ini di antaranya Andjar Any, Gesang, dan Ki Narto Sabdo. Penyanyi yang dapat disebut legendaris dari genre musik ini adalah Waljinah.

Siter iki, aku gawe dhewe, nek ora salah modale rungatus ewu”, kata Pak Warno. (Siter ini saya buat sendiri, kalau tidak salah dengan modal dua ratus ribu). “Nek nang pasaran siter iso nganti rung yuta nganti telung yuta”, Ibu Warno menambahkan. (Kalau di pasaran, siter bisa dijual dua sampai tiga juta). Pastinya dengan kualitas kayu dan ukiran kayu yang menambah mahal alat musik ini.

Siter adalah alat musik petik di dalam gamelan Jawa. Ada hubungannya juga dengan kecapi gamelan Sunda. Siter masing-masing memiliki 11 dan 13 pasang senar, direntang kedua sisinya di antara kotak resonator. Ciri khasnya satu senar disetel nada pelog dan senar lainnya dengan nada slendro. Umumnya sitar memiliki panjang sekitar 30 cm dan dimasukkan dalam sebuah kotak ketika dimainkan. Siter dimainkan dengan kecepatan yang sama dengan gambang (temponya cepat).

Nama “siter” berasal dari Bahasa Belanda “citer”, yang juga berhubungan dengan Bahasa Inggris “zither”. “Celempung” berkaitan dengan bentuk musikal Sunda celempungan.

Senar siter dimainkan dengan ibu jari, sedangkan jari lain digunakan untuk menahan getaran ketika senar lain dipetik, ini biasanya merupakan ciri khas instrumen gamelan. Jari kedua tangan digunakan untuk menahan, dengan jari tangan kanan berada di bawah senar sedangkan jari tangan kiri berada di atas senar.

Mungkin bukan kebetulan bahwa siang ini aku disuguhi dengan lantunan musik tradisional tempatku ini. Hanya untuk mengingatkan aku apabila aku kembali ke tanah seberang lagi, apabila kangen dengan rumahku, PURWOREJO CITY (PURWOREJO BERIRAMA) putarlah musik langggam ini.

 

Related Post :

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s