Knalpot


Sore ini tiba-tiba datang keponakan ke barak saya. “Om, titip knalpot ya. Saya mau ke Palangka Raya. Engga usah bilang kalo saya titip knalpot disini ya sama mama papah, besok saya ambil pas pulangnya”, kata keponakan saya.

Jadi ingat masa-masa SMA dulu. Pinjam motor orang tua, berangkat dengan kondisi lengkap, nanti kira-kira sudah tidak bisa dilihat/ jauh copot spion kiri kanan. Malu sama teman, seperti “Belalang Tempur”. Nanti sebelum pulang pasang lagi. Takut juga, kalo-kalo tidak dipinjamin lagi motor.

“Cemen”, kata kawan-kawan sekolah dulu

Ketidak jujuran. Entah dimulai dari mana, yang pasti dari kita sendiri bagaimana menyikapi. Walau lingkungan memaksa kalo diri kita telah siap mental batin, pasti kita tak mungkin menuruti apa yang berlawanan dengan hati kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s